Monday, December 17, 2012

BAB 3 : Kepimpinan

KEPIMPINAN DAN KERJA BERPASUKAN(Definisi Kepimpinan)

DEFINISI KEPIMPINAN
Dalam kamus dewan menaytakan perkataan kepimpinan daripada kata akar pimpin. Perkataan pemimpin adalah bererti orang yang memimpin, mebimbing, menuntun, mengepalai dan melatih.Mankala pimpinan ialah perihal pemimpin. Dalam kamus Dwibahasa, perkataan leadership bererti kepimpinan, bombing, sifat-sifat seorang pemimpin dan kepimpinan.Dalam kamus sinonim, pemimpin juga bermakna jaguh, orang terkemuka, pembesar, pengasuh, wali, pendidik, memimpin ialah mengepalai, mengetuai, mempelopori, mendahuludan seumpamanya. (Andek masnah andek kelawa 1999:36)Disini jelaslah pemimpin itu ialah seorang yang dinamakan pemimpin dengan seorangatau beberapa orang yang dinamakan pengikut.


Teori Kepimpinan

Banyak telah ditulis tentang kepimpinan. Terdapat tiga aliran atau pendekatan untuk menerangkan fenomena keberkesanan pemimpin. Pendekatan pertama, teori sifat, cubamencari sifat-sifat sahsiah (personaliti) sejagat. Diandaikan bahawa pemimpinmempunyai sifat-sifat yang tidak dipunyai oleh bukan pemimpin. Pendekatan kedua, teori perilaku, cuba menghuraikan kepimpinan melalui perilaku orang yang memimpin.Kedua-dua pendekatan ini didapati kurang memuaskan. Pendekatan ketiga, teorikontingensi, mencadangkan model kontingensi untuk mengatasi kelemahan pendekatanterdahulu dan mengambil kira penemuan penyelidika

Teori Perilaku
Teori ini mengutarakan bahawa perilaku tertentu membeza-kan pemimpin daripada bukan pemimpin. Kajian perilaku kepimpinan mengharapkan penemuan tentang penentu perilaku pemimpin yang berkesan. Jika hal ini terbukti, maka ini bermakna pemimpin boleh dilatih. Implikasinya kita boleh melatih orang untuk menjadi pemimpin

Fungsi Pemimpin

A. Tugas Pokok Kepemimpinan

Tugas pokok—seorang pemimpin yaitu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti yang telah disebutkan sebelumnya yang terdiri dari: merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi.
Terlaksananya tugas-tugas tersebut tidak dapat dicapai hanya oleh pimpinan seorang diri, tetapi dengan menggerakan orang-orang yang dipimpinnya. Agar orang-orang yang dipimpin mau bekerja secara erektif seorang pemimpin di samping harus memiliki inisiatif dan kreatif harus selalu memperhatikan hubungan manusiawi. Secara lebih terperinci tugas-tugas seorang pemimpin meliputi: pengambilan keputusan menetapkan sasaran dan menyusun kebijaksanaan, mengorganisasikan dan menempatkan pekerja, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan baik secara vertikal (antara bawahan dan atasan) maupun secara horisontal (antar bagian atau unit), serta memimpin dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

Secara umum, tugas-tugas pokok pemimpin antara lain :
a. Melaksanaan Fungsi Managerial, yaitu berupa kegiatan pokok meliputi pelaksanaan :
- Penyusunan Rencana
- Penyusunan Organisasi Pengarahan Organisasi Pengendalian Penilaian
- Pelaporan
b. Mendorong (memotivasi) bawahan untuk dapat bekerja dengan giat dan tekun
c. Membina bawahan agar dapat memikul tanggung jawab tugas masing-masing secara
baik
d. Membina bawahan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien
e. Menciptakan iklim kerja yang baik dan harmonis
f. Menyusun fungsi manajemen secara baik
g. Menjadi penggerak yang baik dan dapat menjadi sumber kreatifitas
h. Menjadi wakil dalam membina hubungan dengan pihak luar


B. Fungsi Kepemimpinan

Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
> Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
> Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.

Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Hadari Nawawi (1995:74), fungsi kepemimpinan berhubungn langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi itu Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian didalam situasi sosial keiompok atau organisasinya.

Fungsi kepemimpinan menurut Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu:
1) Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinya.
2) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin.

Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:
1. Fungsi Instruktif.
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.
2. Fungsi konsultatif.
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.
3. Fungsi Partisipasi.
Dalam menjaiankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.
4. Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuay atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri.
5. Fungsi Pengendalian.
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
Kemudian menurut Yuki (1998) fungsi kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi dan mengarahkan karyawan untuk bekerja keras, memiliki semangat tinggi, dan memotivasi tinggi guna mencapai tujuan organisasi. Hal ini terutama terikat dengan fungsi mengatur hubungan antara individu atau kelompok dalam organisasi. Selain itu, fungsi pemimpin dalam mempengaruhi dan mengarahkan individu atau kelompok bertujuan untuk membantu organisasi bergerak kearah pencapaian sasaran. Dengan demikian, inti kepemimpinan bukan pertama-tama terletak pada kedudukannya daiam organisasi, melainkan bagaimana pemimpin melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin. Fungsi kepemimpinan yang hakiki adalah :

Selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha untuk pencapaian tujuan
Sebagai wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak luar.
Sebagai komunikator yang efektif.
Sebagai integrator yang efektif, rasional, objektif, dan netral.


Fungsi pokok pimpinan adalah:
• Memberikan kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan oleh anggotanya.
• Mengawasi, mengendalikan dan menyalurkan perilaku anggota yang dipimpin
• Bertindak sebagai wakil kelompok dalam berhubungan dengan dunia luar
Fungsi kepemimpinan itu pada pokoknya adalah menjalankan wewenang kepemimpinan, yaitu menyediakan suatu sistem komunikasi, memelihara kesediaan bekerja sama dan menjamin kelancaran serta keutuhan organisasi atau perusahaan.

Fungsi-fungsi kepemimpinan meliputi kegiatan dan tindakan sebagai berikut:
a. Pengambilan keputusan
b. Pengembangan imajinasi
c. Pendelegasian wewenang kepada bawahan
d. Pengembangan kesetiaan para bawahan
e. Pemrakarsaan, penggiatan dan pengendalian rencana-rencana
f. Pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya
g. Pelaksanaan keputusan dan pemberian dorongan kepada para pelaksana
h. Pelaksanaan kontrol dan perbaikan kesalahan-kesalahan
i. Pemberian tanda penghargaan kepada bawahan yang berprestasi
j. Pertanggungjawaban semua tindakan

Membangunkan Kemahiran Kepimpinan

Ramai pakar-pakar motivasi seperti mengatakan bahawa pemimpin-pemimpin yang dibuat, tidak dilahirkan. Saya akan berhujah yang bertentangan dengan tepat. Saya percaya kita semua dilahirkan semula jadi pemimpin, tetapi telah deprogrammed di sepanjang jalan. Sebagai kanak-kanak, kami pemimpin semulajadi - ingin tahu dan merendah diri, sentiasa lapar dan dahaga untuk pengetahuan, dengan imaginasi yang amat jelas, kita tahu apa yang kita mahu, telah berterusan dan diputuskan di dalam mendapatkan apa yang kita mahu, dan mempunyai keupayaan untuk memberi motivasi, inspirasi , dan pengaruh semua orang di sekeliling kita untuk membantu kami dalam mencapai misi kami. Lalu mengapa ini begitu sukar untuk lakukan sebagai orang dewasa? Apa yang berlaku?

Sebagai kanak-kanak, dari masa ke masa, kami mendapat digunakan untuk mendengar, Tidak, Jangan, dan tidak boleh. Tidak! Jangan melakukan perkara ini. Jangan buat begitu. Anda tidak boleh melakukan ini. Anda tidak boleh berbuat demikian. Tidak! Ramai ibu bapa kita kepada kita untuk berdiam diri dan tidak mengganggu orang dewasa dengan bertanya soalan bodoh. Corak ini terus ke sekolah tinggi dengan guru-guru kami memberitahu kita apa yang kita boleh lakukan dan tidak boleh lakukan dan apa yang mungkin. Kemudian ramai di antara kita mendapat dipukul dengan satu besar diinstitusikan pendidikan formal dikenali sebagai kolej atau universiti. Malangnya, sistem Pendidikan tradisional tidak mengajar pelajar bagaimana untuk menjadi pemimpin, ia mengajar pelajar bagaimana untuk menjadi pengambil perintah sopan untuk dunia korporat. Sebaliknya pembelajaran untuk menjadi kreatif, bebas, berdikari, dan berfikir untuk diri mereka sendiri, kebanyakan orang belajar bagaimana untuk taat dan bijak mengikut undang-undang untuk memastikan bersenandung mesin korporat.
Your Ad Here

Membangunkan Ketua dalam anda untuk menjalani kehidupan yang paling tinggi, maka, memerlukan proses pelenyapan oleh diri mengingati dan menghormati diri sendiri. Sebagai seorang pemimpin yang berkesan lagi akan memerlukan anda untuk menjadi berani dan membuka pintu untuk loteng dalaman anda, di mana impian zaman kanak-kanak anda berbohong, masuk ke dalam ke jantung. Berdasarkan atas saya sepuluh tahun penyelidikan dalam bidang pembangunan manusia dan Kepimpinan, di sini ialah sepuluh langkah-langkah mudah yang boleh anda ambil untuk membangunkan Pemimpin dalam anda dan menyalakan semula semangat anda untuk kebesaran.

1. Merendah diri. Kepimpinan bermula dengan rendah hati. Untuk menjadi pemimpin yang berjaya, anda perlu terlebih dahulu merendah diri seperti seorang anak kecil dan bersedia untuk berkhidmat kepada orang lain. Tiada siapa yang mahu mengikuti orang yang sombong. Merendah diri sebagai seorang kanak-kanak, sentiasa ingin tahu, sentiasa lapar dan dahaga ilmu pengetahuan. Kerana apa yang cemerlang tetapi ilmu pengetahuan ditambah ditambah pengetahuan - sentiasa mahu lebih baik diri sendiri, sentiasa memperbaiki, sentiasa berkembang. Apabila anda merendah diri, anda menjadi benar-benar berminat pada orang kerana anda mahu belajar daripada mereka. Dan kerana anda mahu belajar dan berkembang, anda akan menjadi pendengar yang jauh lebih berkesan, yang merupakan alat komunikasi # 1 kepimpinan. Apabila orang perasaan anda benar-benar berminat untuk mereka, dan mendengar kepada mereka, mereka secara semula jadi akan tertarik pada anda dan mendengar apa yang anda katakan.
Your Ad Here

2. SWOT diri. SWOT adalah singkatan bagi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Walaupun ia adalah alat Pengurusan strategik diajar di Stanford dan Harvard Sekolah Perniagaan dan digunakan oleh syarikat multinasional besar, ia boleh hanya sebagai berkesan digunakan dalam pembangunan profesional anda sendiri sebagai pemimpin. Ini adalah penting berguna untuk mendapat akses kepada pengetahuan diri, diri mengingat, dan menghormati diri sendiri. Mulakan dengan menyenaraikan kesemua Kekuatan anda termasuk pencapaian anda. Kemudian menulis semua Kelemahan anda dan apa yang perlu diperbaiki. Pastikan untuk memasukkan apa-apa keraguan, kebimbangan, ketakutan, dan kebimbangan yang mungkin anda miliki. Ini adalah syaitan dan naga menjaga pintu ke loteng dalaman anda. Dengan membawa mereka ke kesedaran sedar anda boleh mula membunuh mereka. Kemudian meneruskan dengan menyenaraikan semua Peluang anda lihat disediakan untuk anda untuk menggunakan kekuatan anda. Akhir sekali, tuliskan semua Ancaman atau halangan yang kini menyekat anda atau yang anda fikir anda akan bertemu di sepanjang jalan untuk mencapai impian anda.

3. Ikut Bliss anda. Tidak kira berapa sibuk anda, sentiasa mengambil masa untuk melakukan apa yang anda suka lakukan. Sebagai seorang yang hidup dan penting vitalizes orang lain. Apabila anda mengikuti keinginan anda, orang di sekeliling anda tidak boleh membantu tetapi berasa penuh semangat dengan kehadiran anda. Ini akan menjadikan anda seorang pemimpin yang berkarisma. Apa pun yang anda menikmati lakukan, sama ada secara bertulis, lakonan, lukisan, lukisan, fotografi, sukan, membaca, menari, rangkaian, atau bekerja pada usaha keusahawanan, mengetepikan masa setiap minggu, ideal dua atau tiga jam sehari, untuk meneruskan aktiviti-aktiviti ini. Percayalah, anda akan menemui masa itu. Sekiranya anda pita video sendiri untuk sehari, anda akan terkejut melihat berapa banyak masa pergi ke sisa!

4. Impian besar. Jika anda mahu menjadi lebih besar daripada kehidupan, anda memerlukan impian itu lebih besar daripada kehidupan. Impian kecil tidak akan melayani anda atau sesiapa sahaja. Ia mengambil jumlah masa yang sama untuk bermimpi kecil daripada ia kepada impian besar. Jadi Besar dan Berani! Tulis Satu Impian Terbesar anda. Antara perkara yang merangsang anda yang paling. Ingat, jangan kecil dan realistik; berani dan tidak realistik! Pergi untuk Emas itu, Pulitzer, Nobel, Oscar, yang tertinggi yang mungkin boleh dicapai dalam bidang anda. Selepas anda telah diturunkan impian anda, senarai sebab tunggal mengapa anda BOLEH mencapai impian anda, bukan bimbang tentang mengapa anda tidak boleh.

5. Wawasan. Tanpa wawasan, kita binasa. Jika anda tidak boleh melihat diri anda memenangi anugerah itu dan merasakan air mata mengalir turun kemenangan muka, ia tidak mungkin anda akan mampu memimpin diri sendiri atau orang lain untuk kemenangan. Bayangkan apa yang akan menjadi seperti mencapai impian anda. Lihat itu, bau itu, rasa itu, ia mendengar, merasa ia di dalam usus anda.

6. Ketabahan. Kemenangan milik orang-orang yang mahu paling dan kekal di dalamnya yang paling lama. Sekarang anda mempunyai impian, pastikan anda mengambil tindakan yang konsisten setiap hari. Saya cadangkan melakukan sekurang-kurangnya 5 perkara yang setiap hari itu akan bergerak anda dekat dengan impian anda.

7. Penghormatan Firman anda. Setiap kali anda memecahkan perkataan anda, anda kehilangan kuasa. Pemimpin yang berjaya mengekalkan perkataan mereka itu dan janji-janji mereka. Anda boleh mengumpul semua mainan dan kekayaan di dunia, tetapi anda hanya mempunyai satu reputasi dalam kehidupan. Perkataan anda adalah emas. Penghormatan itu.

8. Dapatkan seorang mentor. Cari diri mentor. Sebaik-baiknya seseorang yang telah mencapai tahap kejayaan dalam bidang anda. Jangan takut untuk bertanya. Anda telah mendapat apa-apa untuk kehilangan. Mentors.ca adalah satu laman web mentor yang cemerlang dan sumber yang besar untuk mencari program-program mentor tempatan. Mereka juga mempunyai profil peribadi percuma anda boleh mengisi untuk mencari anda berpotensi mentor yang sesuai. Di samping mentor, ambil masa untuk mengkaji Autobiografi pemimpin besar yang anda kagumi. Belajar semua yang anda boleh daripada kehidupan mereka dan model beberapa tingkah laku mereka yang berjaya.

9. Jadilah Diri Anda. Gunakan hubungan anda dengan mentor dan penyelidikan anda pada pemimpin besar sebagai model atau tempat rujukan untuk bekerja dari, tetapi tidak pernah menyalin atau meniru mereka seperti burung nuri. Setiap orang mempunyai gaya kepimpinan yang jauh berbeza. Buku sejarah dipenuhi dengan pemimpin yang lembut, pendiam, dan tenang, sepanjang jalan ke ekstrim yang lain berada di luar-bercakap, extroverted, dan kuat, dan segala sesuatu di antara. Satu Gandhi tenang dan mudah atau seorang petani lembut kacang dinamakan Jimmy Carter, yang menjadi presiden Amerika Syarikat dan memenangi Hadiah Keamanan Nobel, telah hanya sebagai pemimpin dunia yang berkesan sebagai a Churchill kuat dan menonjol, atau gaya kepimpinan yang sukar digunakan oleh The Iron Lady, Margaret Thatcher. Saya mengagumi Hemingway sebagai penulis. Tetapi jika saya salinan Hemingway, saya akan kadar kedua atau ketiga Hemingway, pada terbaik, dan bukannya kadar first Sharif. Jadilah diri anda, diri anda yang terbaik, sentiasa bersaing dengan diri sendiri dan bettering diri sendiri, dan anda akan menjadi kadar pertama anda bukan seseorang kadar kedua lain.

10. Beri. Akhirnya, menjadi pemberi. Pemimpin keluarga. Dengan memberikan, anda mengaktifkan undang-undang sejagat sebagai bunyi seperti kehidupan graviti memberikan kepada pemberi, dan mengambil dari pengambil itu. Lebih banyak anda memberi, lebih banyak anda dapat. Jika anda mahu lebih cinta, rasa hormat, sokongan, dan kasih sayang, memberi kasih sayang, memberi hormat, memberi sokongan, dan memberi belas kasihan. Menjadi mentor kepada orang lain. Beri balik kepada masyarakat anda. Sebagai pemimpin, satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang anda mahu, adalah dengan membantu orang cukup mendapat apa yang mereka mahu pertama. Seperti Sir Winston Churchill pernah berkata, "Kami mencari rezeki dengan apa yang kita dapat, kita menjadikan kehidupan dengan apa yang kita berikan."

Pengenalan dan Definisi Konsep Kerja Berpasukan

Secara ringkasnya kerja berpasukan merujuk kepada pekerja yang bekerja dalam satu kumpulan yang sering bekerjasama dan menjalankan tugas secara berganding bahu bagi mencapai matlamat pasukan. Sebuah pasukan terdiri daripada gabungan sebilangan individu yang mempunyai kompetensi yang saling bergantung iaitu dari segi keupayaan, kepakaran, kemahiran dan pengatahuan serta mempunyai akauntabiliti dan komitmen terhadap prestasi pasukan serta bersedia melaksanakan tugasan secara bersama. Antara ciri2 sebuah pasukan adalah:
CIRI-CIRI PASUKAN KERJA
Ketua Ketua sebagai fasilitator dan pebimbing pasukan
Membuat keputusan Persetujuan seluruh pasukan setelah maklumat diterima dan dinilai
Matlamat Matlamat ditentukan oleh pasukan
Penentuan kerja Pasukan merangcang penugasan kerja secara bersama
Komunikasi Komunikasi dua hala yang lebih terbuka dan telus
Kerjasama Anggota berkongsi kepakaran dalam menjadi pelengkap antara satu sama lain
Hasil kerja Hasil kerja berpasukan
Penilaian Prestasi di nilai secara kolektif

Jadual Ciri2 Sebuah Pasukan

Melalui kerja berpasukan, organisasi dapat meningkatkan hasil tanpa meningkatkan sumber kerana kerja berpasukan melibatkan gabungan usaha, pengatahuan, kemahiran dan kebolehan yang dapat menghasilkan prestasi kerja yang lebih tinggi berbanding jika dilakukan secara bersendirian. Lapan nilai2 utama yang menjasi pra syarat kepada perlaksanaan kerja secara berpasukan iaitu:

Matlamat sama
Tanggungjawab bersama
Saling percaya mempercayai
Berkongsi idea
Saling bantu membantu
Bertolak ansur
Musyawarah
Kerjasama

Sering kali wujud kekeliruan antara kerja berpasukan dengan kerja berkumpulan. perlu dipastikan bahawa kedua-dua istilah ini berbeza. Kerja dalam kumpulan belum tentu membawa maksud kerja sepasukan. Terdapat banyak jenis kerja yang dilakukan oleh individu dalam kumpulan tetapi ia belum menjadi kepada contoh kepada kerja berpasukan kerana:

“Kerja berkumpulan menumpukan kepada kerja masing2 tetapi secara beramai-ramai setiap orang telah ditetapkan kerja yang mesti di siapkan. Malah seseorang dalam kumpulan hanya menerima arahan daripada ketua serta tidak terlibat di dalam menentukan sebarang keputusan atau tindakan”

Tambahan lagi, kerja berpasukan dapat menerima anggota pasukan yang berlainan latar belakang dan menganggap anggota yang berbeza sebagai “sebahagian daripada kita” tetapi kerja berkumpulan, biasanya anggota terdiri daripada mereka yang mempunyai persamaan dari segi cara berfikir dan latara belakang dan menganggap orang lain berbeza sebagai “bukan daripada kita“.
Apa itu pasukan berpretasi tinggi?

Sesebuah pasukan dikatakan berprestasi tinggi apabila dapat memberi kepuasan kepada pelanggan, pekerja, pelabur serta pihak lain yang berkepentingan dalam organisasi. Pasukan ini sentiasa menekankan aspek penambahbaikan yang berterusan dalam perancangan dan pengurusan aktivitinya serta kerap menghasilkan kualiti kerja yang lebih baik. Pasukan berprestasi tinggi lebih sedia membangunkan potensi, mengemas kini kepakaran, dan menjadikan kekuatan kognitif serta emosi sebagai penggerak dalam memastikan kecermelangan pasukan.

Oleh itu, faktor2 yang mempengaruhi prestasi sesebuah pasukan perlu dikenal pasti terlebih dahulu bagi meransang penglibatan sepenuhnya oleh anggota pasukan. Prestasi pasukan ditentukan oleh 3 faktor iaitu:

Kemampuan pekerja
Persekitaran kerja
Motivasi pekerja

Terdapat 6 elemen yang membentuk sesebuah pasukan kerja berprestasi tinggi yang mana terdiri daripada:

Kopetensi anggota pasukan
Kemahiran, proses dan cara kerja
Kemahiran interpersonal, komunikasi dan kelebihan personaliti
Sistem nilai
Visi, matlamat dan hala tuju yang sama
Nilai organisasi

Disamping itu kejelasan mengenai peranan, kuasa dan tanggungjawab setiap anggota pasukan turut mempengaruhi prestasi pasukan kerja. Dalam hal ini, setiap anggota dalam pasukan kerja perlu memahami dengan jelas kepercayaan, nilai serta norma yang menjadi pegangan mereka. Apabila mereka mengatahui tugas masing2 dengan sebaiknya serta etika kerja yang menjadi panduan bersama dapat memenuhi sasaran matlamat pembentukan pasukan berprestasi tinggi yang boleh menguntungkan organisasi.

Melihat kepada faktor2 disenaraikan, jelas menunjukkan bahawa keberkesanan, prestasi dan pencapaian sesebuah pasukan di pengaruhi oleh hubung kait antara faktor di peringkat organisasi, pasukan dan individu (anggota). Kekurangan dan kelemahan salah satu faktor akan menyebabkan pasukan kerja gagal berfungsi dengan berkesan dan situasi ini boleh menjejaskan matlamat pasukan yang ingin dicapai.

Usaha ke arah merealisasikan matlamat pembentukan pasukan berprestasi tinggi juga memerlukan jalinan kerjasama yang erat dan komunikasi berkesan antara pihak pengurusan organisasi dengan pasukan serta antara sesama anggota pasukan. Pengembelingan usaha dalam kalangan anggota pasukan penting untuk memastikan pasukan mencapai matlamatnya. Oleh itu, penekanan terhadap konsep C-O-Q-P Driven adalah penting agar pasukan mencapai tahap kematangan yang berjaya melalui 3 tahap kritikal iaitu:

Kelansungan (survive)
Perkembangan (growth)
Kejayaan (excell)


KEPIMPINAN ISLAM: KONSEP DAN AMALANNYA

Allah s.w.t. mencipta manusia, melengkapkan mereka dengan keupayaan intelek dan menjadikan mereka sebagai khalifah (pemimpin) di atas muka bumi. Di samping kejadian manusia, Allah juga mencipta makhluk-makhluk dan kejadian lain sebagai sesuatu yang berguna kepada manusia. Dalam mencipta kejadian-kejadian ini, Allah membekalkan dua prasarana kepada manusia untuk memakmurkan muka bumi iaitu kebolehan mengurus (skill) dan sumber-sumber (resources). Tanggungjawab memimpin dan mengurus sekumpulan individu atau sesuatu masyarakat untuk mencapai objektif atau matlamat terletak kepada bahu pemimpin.
Kejayaan dan kemajuan sesuatu bangsa bergantung kuat kepada gaya kepimpinan pemimpin mereka dan berkait rapat dengan kesedaran menunaikan tanggungjawab oleh pemimpin dan seterusnya menggerakkan masyarakat menuju keredhaan Allah. Islam telah menyediakan garis panduan yang jelas dalam soal kepimpinan yang boleh dipraktikkan untuk kesejahteraan masyarakat. Konsep kepimpinan Islam perlu difahami dan diterapkan dalam bentuk yang komprehensif sesuai dengan maksud Islam sebagai cara hidup (nizam al-hayah).
Definisi Kepimpinan.
Dalam Islam, aspek kepimpinan diberi perhatian penting sehingga Rasulullah s.a.w. menganjurkan agar dilantik seorang pemimpin walaupun dalam kumpulan yang kecil sepertimana sabda Baginda yang bermaksud: ‘Apabila tiga orang keluar bermusafir, maka hendaklah dilantik seorang daripadanya
1 Kertas kerja ini dibentangkan pada Seminar Pengurusan Islam: Penolong Pendaftar Nikah dan Nazir Masjid Daerah Kuala Langat, 3 Mei 2008, Quality Hotel, Shah Alam.

1
sebagai ketua’. Terdapat pelbagai definisi diberi tentang ‘kepimpinan’, antaranya:
2 Surah al-A’raaf , ayat 142.
1. Usaha untuk mempengaruhi individu atau sekumpulan individu untuk melakukan sesuatu tugas bagi mencapai objektif tertentu;

2. Tingkah laku individu apabila dia sedang mengarah aktiviti kumpulan ke arah mencapai matlamat yang dikongsi bersama; dan

3. Seni menyusun hubungan antara individu dengan beberapa kumpulan yang mengarah mereka ke arah sesuatu matlamat yang dirancangkan.

Terdapat pelbagai istilah yang dikaitkan dengan kepimpinan dalam Islam seperti ‘khalifah’, ‘imamah’, ‘qiyadah’, ‘za’mah’, ‘ri’ayah’, ‘ri’asah’ dan ‘siyadah’. Semua istilah ini menunjukkan wujudnya hirarki dalam kepimpinan Islam dan boleh dilihat dalam beberapa ayat al-Qur’an, antaranya :
Maksudnya: Dan berkatalah nabi Musa kepada saudaranya nabi Harun (semasa keluar menerima Taurat). Gantikanlah aku dalam (urusan memimpin) kaumku, dan perbaikilah (keadaan mereka sepeninggalanku), dan janganlah kamu mengikut jalan orang-orang yang melakukan kerosakan.2

2
3 Surah al-Baqarah, ayat 124.
4 Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Maksudnya: Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimah (suruhan dan larangan), maka nabi Ibrahim pun menyempurnakannya. (Setelah itu), Allah berfirman: Sesungguhnya Aku melantik kamu menjadi imam (pemimpin ikutan) bagi umat manusia. Nabi Ibrahim pun memohon dengan berkata: (Ya Tuhanku) jadikanlah juga dari keturunanku (pemimpin-pemimpin ikutan). Allah berfirman: (Permohonan mu diterima, tetapi) janjiKu ini tidak akan didapati oleh orang-orang yang zalim.3
Kepimpinan seringkali dikaitkan dengan seni membimbing, mendidik, memujuk, mempengaruhi, mengajak, menuntun dan sebagainya. Justeru itu, umat Islam digesa supaya sentiasa sedar tentang keperluan dan kepentingan kepimpinan kerana kepimpinan yang cemerlang akan melahirkan masyarakat yang cemerlang.
Cabaran Membentuk Pemimpin dan Kepimpinan.
Kepimpinan dari perspektif Islam tidaklah semata-mata merujuk kepada pemimpin tertinggi terutama pemimpin-pemimpin negara. Cabaran untuk membentuk kemahiran kepimpinan dalam setiap individu Muslim adalah cabaran utama yang perlu difahami. Mengikut hadis Rasulullah s.a.w., semua individu Muslim dianggap sebagai pemimpin dan bertanggungjawab kepada mereka yang berada di bawah kepimpinannya seperti sabda Baginda yang bermaksud:4
‘Tiap-Tiap seorang dari kamu adalah pemimpin dan akan diminta bertanggungjawab kepada orang-orang yang berada di bawah jagaannya. Seorang ketua negara bertanggungjawab ke atas rakyatnya dan akan disoal oleh Allah akan kepimpinannya. Seorang isteri bertangung jawab di rumahnya dan akan disoal berkenaan tanggungjawabnya, seorang anak bertanggungjawab ke atas harta bapanya dan dia juga akan disoal, begitu juga seorang hamba atau yang bekerja dengan majikan, bertanggungjawab

3
5 Surah al-Baqarah, ayat 257.
kepada majikannya, setiap kamu adalah pemimpin, dan bertanggungjawab kepada apa yang dipimpinnya’ .
Berdasarkan hadis ini, boleh difahami bahawa tahap yang paling minimum, seorang individu bertanggungjawab memimpin dirinya sendiri, kemudian hierarki kepimpinan meningkat setahap demi setahap - bermula dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat sehinggalah kepada kepimpinan yang tertinggi di peringkat negara dan dunia. Dalam semua peringkat kepimpinan ini, pemimpin bertanggungjawab penuh terhadap pengikut-pengikut atau orang yang dipimpinnya. Lebih tinggi kedudukan kepimpinan seseorang, lebih tinggilah amanah yang mesti dipikul olehnya.
Pemimpinlah sebenarnya yang bertanggungjawab menentukan ke arah mana pengikut-pengikutnya akan dibawa. Keharmonian atau kegelisahan yang wujud dalam masyarakat berkait rapat dengan agenda yang dibawa oleh pemimpin. Banyak nas syara’ yang menekankan fungsi pemimpin sebagai penggerak sosial dan mengakui pemimpin mempunyai implikasi besar kepada corak atau pola perlakuan pengikut, misalnya firman Allah s.w.t.:5
Maksudnya: Allah pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, penolong-penolong mereka ialah taghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.
Setiap Muslim mempunyai potensi tersendiri untuk menjadi seorang pemimpin yang berkesan dalam lingkungan tanggungjawabnya. Ini kerana kepimpinan bukanlah sesuatu yang statik atau kaku dan tidak berkembang tetapi ia sebenarnya dinamik, boleh berubah kepada tahap yang lebih baik dengan melalui beberapa proses tertentu. Memang ada penulis yang beranggapan seorang pemimpin berpengaruh memang telah dilahirkan dengan beberapa sifat yang melayakkan dirinya sebagai pemimpin. Dengan erti kata lain

4
6 Jaafar Muhammad, 1988.
7 Ahmad Ibrahim, 1991.
mereka ‘born to be a leader’ atau memang mereka dilahirkan untuk menjadi pemimpin.6
Bagaimanapun, pemimpin yang berpengaruh diakui perlu juga melalui beberapa proses atau latihan yang boleh membentuk personalitinya sebagai seorang pemimpin yang berjaya. Seorang pemimpin yang mencurahkan seluruh pemikiran dan tenaganya bagi memastikan pengikut-pengikut memperolehi manfaat yang banyak dari kepimpinannya, dijanjikan oleh Allah dengan ganjaran yang besar.7 Dalam Musnad Imam Ahmad ada diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:
‘Makhluk yang paling dicintai Allah adalah imam (pemimpin) yang adil dan yang paling dibenci Allah ialah imam yang zalim’.
Cabaran Melaksanakan Tanggungjawab Kepimpinan.
Kepimpinan mengikut perspektif Islam bukanlah satu kedudukan yang boleh dianggap istimewa atau perlu direbut-rebut kerana ia sebenarnya lebih bersifat amanah. Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan Abu Dzar al-Ghifari yang memohon diberi suatu jawatan mentadbir wilayah Islam dalam sabdanya yang bermaksud:
‘Sesungguhnya kepimpinan itu adalah satu amanah, pada hari kiamat ia merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang menunaikan amanahnya dengan sempurna seperti yang telah dipertanggungjawabkan’.
Amanah menunaikan tanggungjawab bukan sahaja terhenti kepada menyempurnakan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya kepada pengikut-pengikut, tetapi yang lebih penting dilihat oleh Islam ialah menyempurnakan amanah kepada Allah.

5
8 Ibn Taimiyyah, Siyasah al-Syar`iyyah (1988).
9 Naceur Jabnoun, 1994.
10 Mohd. Amin Saleh, 1990.
Ibn Taimiyyah8 menekankan bahawa kriteria penting dalam melantik seorang pemimpin mengetuai sesuatu jawatan ialah memastikan mereka mempunyai dua sifat penting iaitu quwwah (keupayaan mentadbir dan mengurus) dan amanah. Menariknya, Ibn Taimiyyah sendiri, yang menulis buku berkenaan kira-kira 800 tahun dahulu, juga turut mengakui bahawa sukar memperolehi pemimpin yang mempunyai kedua-dua sifat ini sekaligus.
Islam amat mementingkan kesejahteraan masyarakat dengan menentukan beberapa kriteria dalam pembentukan kepimpinan. Pemimpin yang sentiasa menjaga amanah kepimpinannya akan memiliki rasa tanggungjawab (sense of responsibility) yang tinggi dan seterusnya mendorong dia mengambil berat apa yang benar-benar berlaku kepada pengikutnya.
Saidina Umar al-Khattab r.a. contohnya, digambarkan sering memeriksa kehidupan rakyatnya, adakalanya di waktu malam, untuk mendapat informasi yang benar dan direct tanpa bergantung kepada laporan pegawainya semata-mata.9 Dengan informasi berkenaan, beliau dapat bertindak cepat menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Sebahagian besar masa dan kerja pemimpin berkait rapat dengan urusan menyelesaikan masalah yang dihadapi pengikut di samping mewujudkan interaksi dengan para pengikut. Lima tanggungjawab utama kepimpinan dalam Islam yang perlu dipenuhi iaitu:10
1. Menegakkan Kebenaran Islam.
Oleh kerana ilmu pengetahuan merupakan syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin, mereka sepatutnya mengetahui kebenaran hakiki di sisi Islam. Kebenaran Islam perlu ditegakkan meskipun ia boleh menggugat kepimpinan atau darjat seorang pemimpin ataupun mungkin akan menimbulkan kepayahan, kepahitan dan kesukaran.


6
11 Surah al-Ahzab, ayat 39.

Oleh itu, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang bermaksud: ‘Katakanlah kebenaran itu walaupun ianya pahit’. Begitu juga Allah s.w.t. berfirman:11
Maksudnya: (Nabi-nabi yang telah lalu itu) ialah orang-orang yang menyampaikan syariat Allah serta mereka takut melanggar perintahNya, dan mereka pula tidak takut kepada sesiapapun melainkan kepada Allah. Dan cukuplah Allah menjadi penghitung (segala yang dilakukan oleh makhluk-makhluknya untuk membalas mereka).
2. Memelihara Karamatul Insan.
Manusia yang dicipta Allah mempunyai nilai yang tinggi di sisi-Nya. Kemuliaan manusia bergantung kepada kemurnian akhlak yang diterjemahkan di dalam kehidupan, menjaga kehormatan diri, memelihara moral dan keunggulan peribadi dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam kerana ia akan merendahkan martabat insan.
Syed Muhammad Naguib al-Attas menjelaskan tentang hakikat manusia dengan menyatakan bahawa - ‘Man has a dual nature, he is both soul and body, he is at once physical being and spirit’. Oleh kerana kerana manusia dicipta untuk menyembah Allah, tugas itu perlu dilakukan kerana ianya sesuai dengan fitrah penciptaan manusia.
Dengan keupayaan intelegence dan huda (petunjuk) yang dibekalkan, manusia mesti dipandu supaya menjadi makhluk yang mulia, yang tahu menggunakan akal untuk mencari dan menemui kebenaran. Nafsu haiwan manusia yang rendah kedudukannya perlu dikawal dan pemimpin perlu memastikan para pengikut bukan sahaja dibentuk dalam


7
12 Surah al-Anbiya’, ayat 73.

konteks sosio-ekonomi, tetapi juga memenuhi tabii kemanusiaan yang asal.
3. Memakmurkan Bumi-Nya.
Memakmurkan bumi Allah dalam ertikata membangunkan ekonomi negara, membangunkan sahsiah penduduknya dan menjaga keharmonian dan kesejahteraan adalah tanggungjawab utama pemimpin. Segala urusan berkaitan pembangunan negara hendaklah dipertimbangkan dari segi kemaslahatan umum, bukannya hanya terhad kepada kelompok atau kumpulan tertentu.
Pengagihan kekayaan negara hendaklah dilakukan secara adil dengan memberi hak kepada yang berhak menerimanya dan membuka peluang seluas-luasnya kepada rakyat untuk membina kehidupan di dunia dan tidak melupakan kebaikan di akhirat.
4. Menjalankan Urusan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.
Menjadi tanggungjawab utama pemimpin mengarahkan dan melaksanakan perkara-perkara yang baik dan berusaha mencegah kemungkaran untuk memastikan para pengikut sentiasa berada di dalam kesentosaan dan memperoleh nikmat secara maksima dalam kehidupan.
Lubang-lubang kemungkaran perlu ditutup untuk mengelak merebaknya wabak keruntuhan akhlak dan masalah sosial. Firman Allah s.w.t.:12


8
13 Surah al-Qasas, ayat 26.

Maksudnya: Dan Kami jadikan mereka ketua-ketua ikutan, yang memimpin (manusia ke jalan yang benar) dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan dan mendirikan sembahyang serta memberi zakat; dan mereka sentiasa beribadat kepada Kami’.
5. Islah (memperbaiki) Masyarakat Melalui Guna tenaga yang Patut.
Menjadi tanggungjawab pemimpin mengorganisasi bidang-bidang kehidupan para pengikut, terutama dengan menurunkan kuasa kepada yang layak. Penyusunan bahagian-bahagian, unit-unit dan sebagainya di dalam struktur organisasi kepimpinan mesti dipandu supaya melakukan islah dengan segala kemampuan yang ada. Firman Allah s.w.t.:13
Maksudnya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Ya bapaku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), kerana sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercayai.

Cabaran Melaksanakan Hak Pemimpin dan Pengikut.
Kualiti kepimpinan memang diutamakan oleh Islam. Bagaimanapun, kualiti berkenaan tidaklah semata-mata terletak kepada pemimpin tetapi juga pengikut. Pengikut yang berkualiti akan melahirkan pemimpin yang berkualiti. Kualiti kepimpinan yang dilihat oleh Islam berhubung rapat dengan menunaikan amanah tanggungjawab kepimpinan.
Dalam hal ini, pemimpin mesti bersifat terbuka, sanggup menerima kritikan dan mengubah tanggapan negatif yang merosakkan kesejahteraan pengikut atau rakyat. Islam turut menggariskan hak-hak pemimpin dan yang dipimpin dan ia perlu dilaksanakan untuk mencapai kecemerlangan dalam kehidupan.

9
14 Surah an-Nisaa', ayat 59.
Satu yang perlu difahami dalam kepimpinan Islam ialah ungkapan bahawa ‘Pemimpin yang baik juga adalah pengikut yang baik’. Kenyataan ini adalah antara kesimpulan yang dibuat oleh pengkaji kepimpinan merujuk kepada seorang pemimpin yang berkesan di mana dalam masa yang sama dia juga menjadi pengikut yang baik.
Oleh kerana tugas memimpin merupakan satu amanah yang penting lagi berat, Islam turut menggariskan hak-hak yang wajar diterima oleh pemimpin dari pengikut-pengikutnya. Kalau pemimpin diminta melaksanakan urusan kepimpinan dengan penuh amanah dan dedikasi, Islam juga meminta para pengikut melaksanakan tugas mereka kepada pemimpin. Terdapat sekurang-kurangnya tiga hak yang wajar dinikmati oleh pemimpin dari pengikut iaitu mendapat kepatuhan dan taat setia, mendapat kerjasama dan memperolehi teguran serta nasihat.
1. Mendapat Kepatuhan dan Taat Setia.
Kepatuhan dan taat setia dari para pengikut akan menentukan segala urusan berkaitan dengan kemasyarakatan berjalan lancar dan memastikan organisasi kepimpinan tidak kucar-kacir. Allah s.w.t. berfirman:14
Maksudnya: Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada RasulNya serta pemerintah di kalangan kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (al-Quran) dan (sunnah) rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik kesudahannya.
Perlu dijelaskan bahawa ketaatan bukan hanya sekadar meliputi kepada perkara-perkara yang disukai, tetapi merangkumi juga perkara-perkara yang mungkin dibenci. Ini kerana dari segi fitrahnya, manusia mudah


10

taat kepada perkara yang disukai, tetapi sukar mentaati perkara yang tidak disukai.
Perintah ketaatan kepada pemimpin bagaimanapun tidaklah mutlak sebagaimana perintah ketaatan orang mukmin kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini kerana Rasulullah s.a.w. menghadkan ketaatan kepada pemimpin hanya kepada perkara-perkara yang ma’ruf seperti sabda Baginda yang bermaksud: ‘Tidak ada ketaatan kepada perkara-perkara maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya pada perkara-perkara ma’ruf’.
Islam juga menekankan bahawa ketaatan kepada pemimpin bukan kerana kehebatan personaliti atau kerana takut dan bimbang kepada sesuatu bentuk tindakan yang mungkin akan berlaku, tetapi ketaatan diberikan adalah kerana jawatannya yang dianugerahkan Allah untuk mentadbir urusan umat.

2. Mendapat Kerjasama.

Selain memberi ketaatan, para pengikut juga wajar memberi kerjasama dan memastikan sesuatu perancangan atau program yang digerakkan oleh pemimpin berjaya mencapai objektifnya. Pemimpin yang memimpin dalam lingkungan syariat wajar mendapat kerjasama sepenuhnya dari para pengikut. Kerjasama kepada pemimpin boleh dimanifestasikan dalam berbagai bentuk - dari berbentuk pengorbanan, mempertahankan kewibawaan pemimpin dengan lisan atau apa sahaja cara yang wajar sehingga kepada pengorbanan harta dan keringat.
Kerjasama dari pengikut bagaimanapun hendaklah timbul dari rasa tanggungjawab terhadap pemimpin yang menunaikan amanahnya seperti yang diperintahkan oleh Allah dan bukannya didorong oleh kepura-puraan atau kerana ada kepentingan lain.

11
3. Memperolehi Teguran dan Nasihat.

Hak ketiga yang wajar dinikmati oleh pemimpin ialah mendapat nasihat dan teguran yang baik dari para pengikut. Menyedari akan hakikat bahawa pemimpin juga bukanlah perfect, Islam meminta umatnya menegur dan memberi nasihat kepada pemimpin mereka.
Dalam hal ini pemimpin juga wajar bersifat terbuka, bersedia menerima teguran dan nasihat. Prinsip kepimpinan sebegini telah dibuktikan misalnya oleh Saidina Abu Bakar as-Siddiq yang membuka ruang kepada rakyat supaya beliau ditegur seperti disebut dalam ucapan dasarnya selepas dilantik sebagai khalifah Islam pertama menggantikan Rasulullah s.a.w., katanya yang bermaksud: ’Jika sekiranya kamu lihat aku melakukan kebaikan, bantulah aku, dan jika sekiranya kamu lihat aku melakukan kesalahan, betulkan aku’.
Saidina Umar al-Khattab r.a. berpendapat bahawa khalifah tidak boleh menganggap dirinya mempunyai keistimewaan-keistimewaan tertentu yang membezakannya dengan rakyat jelata sehingga tidak ada orang yang berani menegur. Ini akan membawa kepada kekacauan dan kemusnahan negara dan menyebabkan hubungan kasih sayang antara pemimpin dengan rakyat menjadi jauh.
Sikap keterbukaan pemimpin amat penting kerana ia boleh mencipta suasana yang harmoni antara pemimpin dengan para pengikut dan mewujudkan perasaan kasih sayang sesama mereka. Kerana itu Islam juga mengajar supaya pemimpin tidak menganggap dirinya mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang membezakan dirinya dengan para pengikutnya.
Di sisi Allah, ukuran perbezaan di antara manusia adalah ketakwaan mereka, bukannya kedudukan dan kemewahan harta benda. Oleh kerana wujud sikap keterbukaan pemimpin, umat Islam tidak ragu-ragu

12
memberi nasihat, kerana menganggap agama itu adalah nasihat sepertimana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
‘Agama itu adalah nasihat. Kami (para sahabat) berkata kepada siapa, ya Rasulullah? Sabda Rasulullah s.a.w. Kepada Allah, kepada rasul-Nya, kepada Kitab-Nya, dan kepada pemimpin-pemimpin umat Islam dan masyarakat mereka’.
Sistem teguran yang dianjur oleh Islam dianggap unggul kerana ia tidak memihak kepada pemimpin sepenuhnya dengan mengorbankan kepentingan ummah dan ia tidak pula memihak kepada kumpulan atau ummah dengan mengorbankan kepentingan pemimpin. Ia menjelaskan di antara tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin di satu pihak dan tugas dan tanggungjawab pengikut di satu pihak yang lain.
Sementara itu, para pengikut juga berhak memperolehi manfaat dari pemimpin iaitu memperolehi perkhidmatan (service) yang terbaik. Pemimpin perlu meletakkan diri mereka sebagai orang yang sentiasa bersedia memberi perkhidmatan dan penyelesaian yang praktikal kepada masalah-masalah yang dihadapi oleh pengikut-pengikut seperti mana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: ‘Pemimpin umat itu ialah khadam kepada mereka’.
Keputusan-keputusan dalam mengendalikan kepimpinan mesti berorientasikan kemaslahatan pengikut dan pemimpin perlu banyak meransang, mengambil inisiatif mengembleng tenaga, kepakaran dan sumber yang ada untuk mencapai objektif. Kepimpinan yang positif dari pemimpin akan menghasilkan budaya kualiti dan kehidupan cemerlang para pengikut.
Penyelesaian - Mewujudkan Kepimpinan Berkesan.
Untuk melahirkan kepimpinan Islam yang berkesan, caranya adalah pelbagai. Namun yang paling penting ialah apa yang dinyatakan oleh Ibn Taymiyyah (meninggal 728H) dalam bukunya al-Siyasah al-Syar’iyyah. Beliau memulakan perbincangan tentang keberkesanan kepimpinan dengan merujuk

13
15 Surah an-Nisaa’, ayat 58.
kepada ayat al-Qur’an yang menekankan tentang sifat amanah dan adil seorang pemimpin seperti yang disebut dalam al-Quran seperti berikut:15
Maksudnya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya) dan apabila kamu menjalankan hukum di antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menghukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhan-Nya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa Mendengar lagi sentiasa Melihat.
Bersifat amanah dan adil adalah dua sifat utama yang menjadi kayu ukur menentukan keberkesanan seorang pemimpin. Kedua-dua sifat tersebut mempunyai hubungan yang rapat dengan ketakwaan pemimpin kepada Allah s.w.t. Manifestasi dari sifat amanah dan adil seorang pemimpin memberi kesan kepada pengikut-pengikut terutama untuk mencapai kepada matlamat as-sa’adah atau kebahagiaan sebenar di dalam kehidupan.
Pembentukan sifat amanah dan adil seorang pemimpin tidak diperolehi hanya melalui warisan tetapi perlu diusaha, antara lain melalui pendidikan, pembelajaran dan pengalaman yang dilalui dalam tempoh tertentu. Pengukuran keberkesanan seorang pemimpin mengikut pandangan Islam dilihat bermula dari perspektif peribadi pemimpin itu sendiri dan kemudian barulah menjalar kepada masyarakat dan negara keseluruhannya.
Seorang pemimpin yang memimpin sebuah negara besar umpamanya, tetapi terlibat dalam kesalahan moral seperti peminum arak dan sebagainya, tidak dianggap berkesan dan berjaya pada pandangan Islam, walaupun mungkin dianggap berkesan jika diukur dari segi prestasi kerjanya.
Di kalangan para sarjana yang membuat kajian lapangan dengan meneliti perilaku seorang pemimpin yang berkesan dan penerimaan oleh pengikut telah mendapati, tidak ada sifat-sifat khusus yang boleh dikatakan secara

14
pasti atau mutlak untuk menentukan tahap tertinggi kredibiliti dan keberkesanan seorang pemimpin. Ini kerana ada sifat-sifat tertentu yang adakalanya tidak sesuai atau serasi dengan kumpulan tertentu tetapi serasi kepada kumpulan lain.
Seorang sarjana Islam pernah berkata: ‘Bukan semua pemimpin mempunyai sifat-sifat tertentu kerana terdapat juga ramai orang yang memiliki kebanyakan atau semua sifat tersebut dan orang ini bukan semua terdiri daripada golongan pemimpin belaka’.
Walaupun begitu, umumnya dipersetujui bahawa terdapat sifat-sifat yang amat diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin yang berkesan seperti mempunyai ilmu pengetahuan yang mencukupi untuk memimpin dan berkeupayaan mentadbir dan mengurus organisasi dari segi perancangan, perlaksanaan dan pengawalan untuk mencapai kepada objektif yang ditentukan.
Justeru itu, di kalangan para ulama’ Islam, mereka cuba menyenaraikan beberapa sifat kepimpinan yang dianggap perlu ada pada seorang pemimpin Islam. Seorang pemimpin yang berada di barisan hadapan memimpin ummah memerlukan kualiti yang tinggi dari segi kehebatan fizikal dan juga spiritual.
Memandangkan pentingnya kualiti seorang pemimpin dalam Islam, para ulama’ memberi perhatian yang mendalam membincangkan pelbagai jenis karakter yang perlu wujud untuk menjadikannya berkesan. Berikut dijelaskan pandangan beberapa orang ulama’ Islam berhubung dengan karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin utama:
1. Al-Mawardi menetapkan 6 syarat untuk menjadi seorang khalifah iaitu:
��Keadilan yang meliputi segala syarat;
��Memiliki ilmu pengetahuan yang sampai ke peringkat boleh berijtihad;


15
��Memiliki kesejahteraan pancaindera, pendengaran, penglihatan dan lisan ;
��Memiliki kesejahteraan anggota badan dari kecederaan yang menjejaskan pergerakan harian;
��Memiliki kecerdasan fikiran sampai kepada peringkat sanggup mempertahankan kehormatan dan berjihad menentang musuh; dan,
��Berbangsa dan berdarah keturunan Quraish;
2. Imam al-Qurtubi, beliau meletakkan 11 syarat untuk menjadi seorang khalifah iaitu:
��Berketurunan Quraish berdasarkan kepada sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: ’Pemimpin hendaklah dari keturunan Quraish’;
��Terdiri dari seorang yang layak menjadi qadi, boleh berijtihad sendiri tanpa bergantung kepada orang lain untuk mengeluarkan sesuatu keputusan;
��Mempunyai kewibawaan dalam urusan ketenteraan dan dapat membenteras kezaliman dan menjaga kepentingan umat Islam;
��Mempunyai pendirian yang teguh dalam menjalankan hukum syariat tanpa gentar dan takut dengan mana-mana pihak;
��Hendaklah seorang yang merdeka dirinya;
��Seorang yang beragama Islam;
��Seorang lelaki;
��Sejahtera anggota tubuh badan dari sebarang kecacatan ;
��Seorang yang baligh;
��Seorang yang berakal sihat; dan
��Seorang yang adil di mana tidak layak bagi yang fasiq menjadi pemimpin .
3. Ibn Khaldun menetapkan 4 syarat sahaja untuk menjadi khalifah iaitu:

��Memiliki ilmu pengetahuan sehingga sampai ke peringkat berijtihad;


16
��Keadilan - di mana semua jawatan dalam agama mesti berlandaskan keadilan;
��Kesanggupan dan berani menjalankan undang-undang hudud serta menghadapi peperangan dan boleh mengarah rakyat berperang, mengetahui hal ehwal diplomasi dan cekap dalam siasah; dan
��Kesejahteraan pancaindera dan anggota badan dari kecederaan seperti gila, buta, tuli, bisu, cacat tangan, kaki dan sebagainya.

4. Al-Baghdadi, sama seperti Ibn Khaldun menetapkan 4 syarat untuk menjadi khalifah dengan penekanan kepada sifat-sifat yang berbeza iaitu:

��Mempunyai ilmu sekurang-kurangnya sampai ke peringkat mujtahid dalam soal halal dan haram dalam hukum agama;
��Adil dan warak, sekurang-kurangnya dirinya boleh menerima kesaksian;
��Mempunyai kemampuan berpolitik serta bijak dalam pengurusan negara, mampu membaca kemampuan rakyat sehingga tidak membebankan kerja-kerja kepada orang yang lemah serta bijak juga dalam urusan ketenteraan; dan
��Berketurunan Quraish.

Jika diperhatikan kepada penentuan karakter kepimpinan berkesan yang diberikan oleh para ulama’ Islam, didapati mereka menekankan tentang kemampuan para pemimpin memimpin pengikut-pengikut menuju kepada keredhaan Allah dan memahami tujuan hidup sebenar.
Aspek ’quwwah’ atau keupayaan dari segi ilmu pengetahuan dan kesejahteraan fizikal merupakan syarat utama dalam memimpin ummah di samping pemimpin memiliki keperibadian yang unggul sehingga dihormati dan disanjungi oleh para pengikut. Hisham al-Talib (1992) menggariskan 7 faktor kepimpinan berkesan yang dibuktikan melalui penyelidikan saintifik sebagai bandingan dengan apa yang disebut sebelum ini seperti berikut:

17
1. Kemampuan Mental.

Dia tidak semestinya mempunyai kecerdasan yang luar biasa.
2. Minat dan Kebolehan yang Luas.

Dia bukan saja aktif dalam satu bidang sahaja. Dia mempunyai kefahaman yang luas, kecenderungan yang banyak dan pelbagai. Dia seorang yang peka, mempunyai minat yang luas terhadap kerja-kerja yang melibatkannya secara langsung, termasuk pelbagai perkara dan aktiviti-aktiviti penting di persekitarannya. Jelasnya dia seorang yang dikurniakan kelebihan yang luas.
3. Kemahiran Komunikasi.

Salah satu gelaran yang diberi kepada Nabi Muhamamd s.a.w. ialah orang yang paling fasih bertutur bahasa Arab. Mengikut Cambrige History of America Literature: ‘Bukan polisi dan tindakkannya yang menyebabkan kemenangan Lincoln menerajui partinya pada tahun 1680, tetapi cara ianya menyampaikan sesuatu’. Dalam setiap revolusi orang yang dapat menyampaikan sesuatu dengan baik dapat memimpin.
4. Kematangan.

Seorang pemimpin yang berjaya bebas dari sifat kebudak-budakkan, sikap dan tingkahlakunya adalah tindakan orang yang dewasa yang bertanggungjawab dan matang. Dari segi psikologinya dia seorang yang stabil dan menggambarkan kestabilan peribadi kepada pengikut-pengikutnya.
5. Kekuatan Motivasi.

Dorongan, tenaga, inisiatif, ketabahan, keupayaan memuliakan diri sendiri dan pendirian yang tetap telah lama diterima sebagai tanda

18
pemimpin yang kuat. Pemimpin yang berjaya suka merancang, mengurus dan mengarah usaha yang lain. Dia mempunyai keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu.
6. Kemahiran sosial.

Kepimpinan pada dasarnya memperoleh sesuatu melalui orang lain, yang menunjukkan secara jelas bahawa pemimpin yang jelas mesti bergantung kepada kemahiran sosial. Dia mesti peka terhadap perasaan dan sikap manusia, sama ada jelas atau tidak. Dia mesti tegas untuk mempengaruhi orang lain dengan berkesan.
7. Keupayaan Mentadbir.

Kebolehan membayang, memulakan, merancang, mengarah, menyelesaikan, menilai orang lain, memilih, mengajar, meransang, mengkaji, meneliti, memerhati, memperbaiki, melihat dengan pandangan yang jauh, meringkaskan, memutuskan, memastikan kerja dilaksanakan; perkara-perkara ini merupakan kemahiran yang dipegang oleh pemimpin lebih daripada teknologi.
Meskipun dalam situasi yang berlainan, sifat-sifat yang diutarakan oleh para ulama’ mempunyai signifikasi untuk melahirkan kepimpinan yang berkesan, iaitu bukan sahaja berkesan dari kacamata para pengikut, tetapi juga pada pandangan Allah s.w.t. Dalam konteks kepimpinan masa kini, konsep kepimpinan Islam perlu bergerak dalam semua lapangan kehidupan dan dipraktikkan oleh semua pihak dari para ustaz, ahli politik, jurutera, arkitek, ahli perniagaan, guru, peniaga dan sebagainya.
Dalam konsep Islam yang syumul, apa sahaja bidang berkaitan profesion pekerjaan yang menyumbang kepada kebaikan rakyat dan negara perlu dianggap sebagai ibadah dengan mendahului niat kerana Allah sesuai dengan tanggungjawab sebagai khalifah Allah yang memakmurkan muka bumi.

19
Muhammad Rasulullah s.a.w. - Pemimpin Ummah Terulung Murabbi Teragung.
Insan bernama Muhammad Rasulullah s.a.w. adalah manusia agung. Baginda adalah model dan ikutan sebenar yang telah memberi panduan kepada seluruh umat manusia dengan lengkap dan sempurna dalam seluruh aspek.
Keunggulan insan bernama Muhammad s.a.w. dapat dilihat sebagai seorang pemimpin Negara, ahli politik, pembuat keputusan (tempat rujukan), panglima tentera, ahli diplomasi, ahli diplomatik, pakar hubungan antara kaum, pakar strategi, pakar perlembagaan, pakar pembangunan sumber manusia (modal insan), pakar pembangunan negara dan masyarakat serta pelbagai bidang lain yang tidak dapat dinyatakan secara khusus.
Pandangan Tokoh Bukan Islam Mengenai Muhammad s.a.w.
1. Michael H. Hart.
Michael H. Hart adalah ahli sejarah, pakar matematik dan astronomi. Beliau menulis buku bertajuk The 100 yang diterbitkan pada tahun 1978. Kemudian buku ini diterbitkan semula dengan tajuk The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History terbitan Carol Publishing Group pada tahun 1992.
Di dalamnya dimuatkan kajian beliau berkenaan 100 orang tokoh sejarah yang paling banyak memberi kesan dan mempengaruhi jalan hidup manusia. Akhirnya beliau merumuskan tokoh yang paling unggul dan berpengaruh adalah Nabi Muhammad s.a.w. Daripada 100 orang tokoh yang dikajinya, 10 nama yang teratas adalah:


20
16 Michael H. Hart, 1978. The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History. New York. Hal. 33.
i. Nabi Muhammad s.a.w.
ii. Isaac Newton.
iii. Nabi Isa.
iv. Buddha.
v. Confucious.
vi. St. Paul.
vii. Ts’ai Lun.
viii. Johann Gutenberg.
ix. Christopher Columbus.
x. Albert Einstein.

Mengapa Michael H. Hart memilih Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah? Beliau berkata: ‘Pemilihan Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sesetengah pembaca dan dipersoalkan oleh sesetengah yang lain. Saya memilihnya kerana hanya beliau seorang sahaja dalam sejarah yang begitu berjaya dalam 2 bidang iaitu keagamaan dan keduniaan. Daripada asal usul yang agak biasa, beliau mengasaskan dan mengembangkan salah satu agama terhebat di dunia dan menjadi seorang pemimpin politik yang unggul. Pada hari ini, 13 abad selepas kewafatan beliau, pengaruhnya masih hebat dan terus berkembang’.16
2. Profesor Jules Masserman.

Majalah Time edisi 15 Julai 1974, meminta masyarakat memberi pandangan mereka berkenaan satu persoalan iaitu ‘What makes a great leader? Throughout history, who qualifies?’ (Apakah kriteria yang menjadikan seseorang pemimpin agung dan sepanjang sejarah, siapakah yang layak digelar sebagai pemimpin agung?)

21
17 Ahmad Deedat. What Does The Bible Say about Muhammad, The Prophet of Islam.
Jules Masserman, tokoh ilmu dalam bidang psiko-analisis dari Amerika Syarikat dan juga Profesor di Universiti Chicago berkata: ’Seseorang pemimpin perlu melaksanakan tiga fungsi iaitu memelihara kesejahteraan pengikut-pengikutnya, mewujudkan satu sistem sosial yang selamat lagi terjamin dan menyemai nilai kepercayaan untuk diikuti oleh pengikut-pengikutnya’.
Selepas mengutarakan kriteria-kriteria ini, Profesor Jules Masserman akhirnya menulis, ‘Tokoh-tokoh seperti Pasteur dan Salk dapat dikatergorikan sebagai pemimpin yang memiliki kriteria pertama. Alexander, Caesar dan Hitler pula dianggap sebagai pemimpin yang melaksanakan kriteria kedua dan mungkin juga ketiga. Pemimpin terunggul dalam sejarah adalah Nabi Muhammad kerana beliau melaksanakan ketiga-tiga kriteria ini, diikuti oleh Nabi Musa’.17
3. George Bernard Shaw.

George Bernard Shaw dilahirkan di Dublin pada tahun 1856. Beliau terkenal sebagai ahli falsafah, pemikir, seniman, pengkritik, tokoh intelek, tokoh sastera, penulis dan aktivis masyarakat. Pernah dikurniakan anugerah Nobel Sastera pada tahun 1925. Kemampuan dan ketokohannya dalam pelbagai bidang menjadikannya disanjung oleh masyarakat Barat hingga kini.
Dalam bukunya yang bertajuk ‘The Genuine Islam’, beliau berkata: ‘Saya sentiasa menyanjung agama yang dibawa oleh Muhammad kerana kehebatan dan potensi yang ada padanya. Ia adalah satu-satunya agama yang pada pandangan saya mempunyai kemampuan untuk disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang sering berlaku dalam kehidupan. Justeru, menjadikannya menonjol pada setiap zaman. Saya mengkaji manusia hebat itu, yakni Nabi Mihammad dan pada pandangan

22
18 George Bernard Shaw. The Genuine Islam, vol. 1, No. 8. Singapore, 1936.
saya beliau bukannya anti Nabi Isa, sebaliknya beliau layak digelar sebagai Penyelamat Umat Manusia’.18
Begitu juga dengan pendapat tokoh-tokoh Barat yang lain seperti Stanley Lane Poole, Thomas Carlyle, Profesor K.S. Ramakrishna Rao, Profesor Laura Vecccia Vaglieri, Profesor Sue Watson, Paderi Kenneth L. Jenkins, Paderi George Anthony, Paderi Viacheslav Sergeevich Polosin, Paderi David Benjamin Keldani, Paderi Ibrahim Khalil Philobus serta Vincent Montagne.
Mereka yang mengkaji secara adil dan saksama berkenaan Nabi Muhammad pasti mengkagumi dan menghormati beliau seperti yang dikatakan oleh seorang tokoh dari India, Mrs. Annie Besat, di dalam bukunya ‘The Life and Teachings of Muhammad’. Beliau berkata: ‘Seseorang yang mengkaji kehidupan dan sifat nabi dari bumi Arab ini dan tahu mengenai ajaran dan cara hidupnya, pasti memberikan penghormatan kepada nabi yang agung ini’.
Kesimpulan
Masyarakat yang cemerlang terbentuk dari kepimpinan yang cemerlang. Lebih ramai pemimpin yang memahami kepimpinan sebagai amanah dilahirkan dalam sesebuah masyarakat, akan lebih makmur dan sejahtera masyarakat. Oleh kerana setiap individu Muslim dianggap pemimpin, mereka mesti membina potensi kepimpinan masing-masing yang berkesan kepada orang yang dipertanggungjawabkan.
Kepimpinan mesti dianggap sebagai melaksanakan amanah Allah. Ada yang mengatakan, untuk menjadi pemimpin, perlu diamalkan satu falsafah iaitu “think like a leader” atau sentiasa berfikir seperti ketua. Dengan cara itu, setiap tindakan akan dibuat dengan matang, dengan mengambil kira reaksi dan respon pengikut-pengikut. Kepimpinan berkait rapat dengan menjalankan tanggungjawab dan memberi hak yang wajar kepada yang berhak

23
menerimanya dan ianya banyak bergantung kepada kualiti modal insan yang dilahirkan oleh negara yang mampu bersaing di peringkat global.
Rujukan.
1. Ibn Taymiyyah, 1995. Siasah Syar’iyyah: Etika Politik Islam, terjemahan Rofi Munawwar.
2. Jaafar Muhammad, 1988. Asas Pengurusan.Petaling Jaya: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.
3. Mohd. Affandi Hassan, 1992. The Tawhidic Approach in Management and Public Administration: Concepts, Principles and an Alternative Model. Kuala Lumpur: INTAN.
4. Mustafa Hj. Daud, 1994. Pengurusan Islam. Kuala Lumpur: Utusan Publication and Distributors Sdn. Bhd.
5. Naceur Jabnoun, 1994. Islam and Management. Kuala Lumpur: Institut kajian Dasar.
6. Michael H. Hart, 1978. The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History. New York.
7. Ahmad Deedat. What Does The Bible Say About Muhammad, The Prophet of Islam.
8. George Bernard Shaw. The Genuine Islam, vol. 1, No. 8. Singapore, 1936.

Konsep kepimpinan dari perspektif barat

Sarjana-sarjana Barat memberi pelbagai tafsiran tentang kepimpinan. Dua definisi umum yang kerap dirujuk ialah kepimpinan sebagai proses mempengaruhi tindak-tanduk individu atau kumpulan dalam usaha mencapai sesuatu matlamat bagi situasi tertentu. Definisi kedua ialah sebarang kegiatan yang melibatkan seseorang merujuk orang lain supaya bekerja dengan rela untuk mencapai matlamat kumpulan.

Kedua-dua definisi di atas adalah tafsiran yang diberikan oleh sarjana Barat yang banyak dilihat dalam konteks organisasi, pertubuhan politik atau badan korporat.

Teori Kontigensi

Teori Kontigensi
Kegagalan kajian berasaskan teori sifat dan perilaku mendapat hasil yang konsisten,maka timbul pula kajian yang menumpukan pengaruh persekitaran. Perkaitan antara gayakepimpinan dengan keberkesanan didapati tertakluk pada keadaan persekitaran,umpamanya, struktur tugas yang dijalankan, kualiti perhubungan pemimpin dan ahli,kedudukan kuasa pemimpin, kejelasan peranan ahli, norma-norma kumpulan, kedapatanmaklumat, sambutan kepimpinan oleh ahli, dan kedewasaan ahli.

Kelebihan dan Faedah Kerja Berpasukan
. Bekerjasama: Kerja berpasukan ialah kerja bersama atau lebih dikenali sebagai kerjasama. Masing-masing saling bantu membantu. Ini bertepatan dengan budaya masyarakat Melayu, tetapi masih agak asing dalam amalan pengurusan Melayu. Kita ada pepatah yang popular; ‘Yang berat sama di pikul, yang ringan sama dijinjing’ dan sepatutnya ‘pikulan dan jinjingan’ itu diadaptasikan ke dalam budaya kerja berpasukan.

2. Keputusan dan penyelesaian: Kerja berpasukan dapat mengurangkan beban membuat keputusan dan penyelesaian. Jika saudara seorang majikan, saudara dapat mengurangkan jumlah keputusan yang terpaksa saudara buat, dengan memberikan sebahagian autoriti itu kepada pasukan bawahan saudara. Jika saudara seorang ahli pasukan, saudara juga dapat mengurangkan beban membuat keputusan; kerana dalam kerja berpasukan, keputusan dibuat secara persepakatan, bukan individu.

3. Sumber manusia yang lebih produktif: Dengan kerja secara berpasukan, organisasi seolah-olah mendapat kekuatan yang baru. Pertama, semangat, fokus, dan produktiviti ahli meningkat. Mereka tidak berasa keseorangan dan rasa kebersamaan. Selain daripada itu, ‘pasukan’ itu sendiri menjadi satu sumber manusia yang tersendiri. Pasukan boleh dianggap sebagai suatu entiti yang mempunyai kelebihan dan produktiviti sendiri. Contohnya, tugasan membuat keputusan dan penyelesaian masalah yang kompleks tidak boleh dikendalikan oleh seorang ahli, tetapi ia boleh disempurnakan oleh sebuah pasukan. Begitu juga dengan tugas-tugas yang lain. Dalam keadaan sebegini, memiliki pasukan itu sendiri seolah-olah memiliki satu lagi ‘sumber manusia’ yang berkebolehan, cekap dan berkesan.

4. Komitmen: Dengan membina pasukan yang baik, bermakna saudara juga membina komitmen yang baik. Jika saudara berada dalam sebuah pasukan yang bersemangat dan cekap, sudah pasti saudara juga cekap dan bersemangat; begitu juga sebaliknya. Oleh itu, menjadi tugas induk membina sebuah pasukan yang mempunyai ciri-ciri yang terbaik, yang bersesuaian dengan tugas dan matlamat yang hendak dicapai.

5. Komunikasi: Dalam sesebuah pasukan, komunikasi adalah penting. Seseorang ketua pasukan mestilah sentiasa berusaha mewujudkan sistem dan budaya komunikasi yang tulus dan terbuka. Dia juga mesti memberi pendorong kepada mereka yang memendam akan lebih meluahkan apa yang terbuku. Ahli-ahli pasukan perlu sentiasa memastikan rakan-rakan sepasukan dapat menyampaikan maklumat dan mesej yang diperlukan. Dengan itu, organisasi tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan pandangan dan respons daripada pasukan berbanding dengan individu.

6. Kualiti: Ini adalah satu lagi produk kerja berpasukan iaitu kualiti. Saudara harus faham, pasukan terdiri daripada pelbagai individu yang mempunyai pelbagai latar belakang dan kemahiran. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Dengan bekerja dalam satu pasukan, kekuatan ini akan bergabung dan mengeluarkan hasil yang cukup menakjubkan. Ia seperti batu-bata yang kecil; apabila ia bergabung, boleh membina sebuah tembok yang tinggi dan kukuh!

7. Semangat dan motivasi: Apabila kita bekerja bersama-sama dengan rakan yang lain, saudara akan berasa lebih bersemangat dan berdaya tahan. Apabila saudara melihat kesukaran dan kesusahan yang turut dihadapi oleh rakan sepasukan, semangat saudara kembali bersinar dan saudara berterusan menghadapi masalah dengan yakin. Contohnya seperti kisah para sahabat Nabi Muhammad dalam peperangan, bagaimana mereka mempunyai semangat dan daya juang yang tinggi, apatah lagi apabila melihat para pejuang yang lain syahid di hujung pedang. Inilah antara yang menjadi pendorong kepada kekuatan tentera Islam dalam sejarahnya yang gemilang.

8. Mengurangkan tenaga serta kakitangan: Apabila produktiviti meningkat, maka dengan sendiri tenaga kakitangan dapat dioptimumkan. Hasilnya, organisasi akan dapat mengurangkan kos, dan menumpukan kepada proses pembangunan dan pengembangan organisasi untuk melangkah lebih jauh.

9. Kepuasan bekerja: Bekerja secara berseorangan boleh mengakibatkan kebosanan dan jemu. Dengan menghayati kerja berpasukan dengan baik, saudara akan berasa lebih puas dan gembira menjalankan tugas.

Ciri-ciri kerja berpasukan
Memahami dan mengenal pasti ciri-ciri kerja berpasukan boleh membantu pengukuhan organisasi bagi mencapai matlamat yang ditetapkan. Terdapat empat ciri utama kerja berpasukan iaitu:

1) Usaha kolektif

-Ahli dalam organisasi mesti memahami dan berkongsi pandangan tentang hala tuju dan matlamat yang hendak dicapai oleh organisasi.
-Menyedari peranan dan fungsi masing-masing boleh memberi motivasi kepada ahli untuk mengambil bahagian dalam setiap peranangan dan tindakan yang telah diputuskan.
-Bekerja bersama-sama boleh dicapai jika usaha kolektif dijadikan sebagai prinsip bekerja kerana semua kekuatan dan seumber dapat digembleng ke arah pencapaian matlamat yang satu.

2) Positif

-Setiap anggota organisasi harus melihat kerja berpasukan sebagai peluang bagi pencapaian matlamat, memenuhi keperluan hidup dan menyediakan sokongan sosial ketika berlaku krisis.
-Melihat dari perspektif positif dapat mewujudkan kejelekitan sesama ahli kumpulan seterusnya kuasa sinergi yang menggerakkan organisasi ke arah prestasi yang maksimum.
-Kesepaduan di antara peranan ahli dan prestasi akan menggalakkan idea yang lebih kreatif dan mengurangkan jurang perbezaan pendapat.

3) Kerjasama

-Tidak semua anggota organisasi benar-benar mamahami peranan yang diamanahkan kepada mereka. Ini kerana terdapat di antaranya yang lebih suka bekerja bersendirian.
-Cabaran besar organisasi bagi menarik perhatian anggotanya ialah mendedahkan peluang yang bakal dinikmati jika bergerak secara berkumpulan. Di peringkat awal, komunikasi yang lebih kerap sesama ahli dapat meningkatkan 'espirit de corp' untuk mereka saling kenal-mengenal seterusnya memahami aspirasi organisasi.

4) Saling lengkap-melengkapi

-Setiap anggota ada peranan masing-masing mengikut kepakaran.
-Pengkayaan ilmu dan peningkatan prestasi akan lebih terserlah jika setiap anggota menyumbang kemahiran dan kepakaran masing-masing.
-Proses lengkap-melengkapi di dalam organisasi akan mewujudkan integrasi yang lebih kukuh dan menjadi teras kepada kejayaan yang lebih besar.

Teori tret dan faktor

SETIAP INDIVIDU MEMPUNYAI SET TRET YANG UNIK YANG MANA BOLEH DIUKURSECARA SAH DAN BOLEH DIPERCAYAISETIAP PEKERJAAN MEMERLUKAN SESEORANGPEKERJA MEMILIKI TRET-TRET TERTENTUUNTUK BERJAYA, NAMUN DEMIKIANSESEORANG PEKERJA DENGAN CIRI-CIRI YANG AGAK LUAS BOLEH BERJAYA DALAMPEKERJAAN TERSEBUT

RUMUSAN TEORI TRET DANFAKTOR
PEMILIHAN KERJAYA ADALAH SATU PROSES YANG AGAK MUDAHDIFAHAMI DAN PROSESPEMADANAN ADALAH MUNGKINSEMAKIN HAMPIRKESELARASAN ANTARA CIRI-CIRI PERSONALDENGAN KEPERLUAN-KEPERLUANDALAM SESUATU PEKERJAAN MAKA SEMAKINBESAR KEMUNGKINAN SESEORANG ITU UNTUKBERJAYA DALAM PEKERJAAN TERSEBUT (PRODUKTIVITI DAN KEPUASAN TINGGI)

0 comments:

Post a Comment